UAS Riset SDM
PENGARUH LINGKUNGAN KERJA DAN
KARAKTERISTIK INDIVIDU TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA RUMAH SAKIT KHUSUS
GERIATRI TEJA HUSADA KEPANJEN MALANG
Dosen Pembimbing :
Dr.Ike Kusdyah Rachmawati SE,MM
Disusun Oleh :
ILA AYU RISMANIKA
14101434
SEKOLAH
TINGGI ILMU EKONOMI ASIA MALANG
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN
2017
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sumber daya manusia merupakan salah
satu aset yang berharga yang dimiliki oleh setiap perusahaan..
Suatu perusahaan dalam melaksanakan
kegiatannya, baik perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur, perdagangan
maupun jasa akan berusaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
sebelumnya. Hal yang terpenting yaitu bahwa keberhasilan berbagai aktivitas
didalam perusahaan dalam mencapai tujuan salah satunya adalah kenyaman
lingkungan kerja. Lingkungan kerja adalah suasana dimana
karyawan melakukan aktivitas setiap harinya. Lingkungan kerja yang kondusif
memberikan rasa aman dan nyaman sehingga memungkinkan karyawan untuk dapat
bekerja secara optimal. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan
dapat menurunkan kinerja karyawan.
Menurut Veithzal Rivai (2001:146) “Lingkungan kerja merupakan
elemen-elemen organisasi sebagai system social yang mempunyai pengaruh kuat di
dalam pembentukan perilaku individu dalam organisasi dan berpengaruh terhadap
prestasi organisasi. Lingkungan kerja meliputi lingkungan kerja fisik maupun
lingkungan kerja non fisik. Lingkungan kerja fisik seperti kebisingan, tata
ruang, dan pearalatan, sedangkan yang mencakup lingkungan kerja non fisik
meliputi hubungan social, kebijakan, dan kepemimpinan.
Pentingnya peranan sumber daya manusia dalam organisasi maka
setiap perusahaan harus mengelolanya dengan baik. Oleh karena itu setiap
manajer perusahaan harus memikirkan tingkat kinerja karyawannya. Karyawan yang
menghasilkan kinerja yang baik akan membantu perusahaan untuk semakin dekat
mewujudkan tujuan-tujuan yang telah dirancang. Seperti yang telah dikemukakan
oleh Prawirosentono dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia Kebijakan
Kinerja Karyawan (1992:2) “Kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh
seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang
dan tanggung jawab masing-masing dalam rangka upaya mencapai tujuan organisasi
bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun
etika”.
Kinerja karyawan yang tinggi merupakan salah satu syarat dalam
pencapaian tujuan perusahaan. Pencapaian tujuan perusahaan diperoleh dari upaya
perusahaan dalam mengelola sumber daya
manusia yang berpotensi agar dapat meningkatkan hasil kerjanya. Pengelolaan
sumber daya manusia yang dilakukan perusahaan tercermin dari kinerja karyawan
yang dihasilkan dari pencapaian tujuan perusahaan. Kinerja karyawan yang rendah
akan memberikan dampak yang negatif pada proses perkembangan dan target
organisasi.
Kinerja adalah hasil pekerjaan yang dicapai seseorang atau
kelompok seperti standar hasil kerja, target yang ditentukan selama periode
tertentu yang berpedoman pada norma, standar operasional prosedur, kriteria dan
fungsi yang telah ditetapkan atau yang berlaku dalam perusahaan (Torang, 2013, p.74; Bangun, 2012, p.231).
Di
sisi lain perusahaan tidak mungkin mengoperasikan
kegiatannya tanpa adanya manusia, karena faktor tenaga kerja manusia memegang
peranan yang sangat penting dalam pencapaian tujuan perusahaan. Setiap manusia
mempunyai watak dan perilaku yang berbeda, disebabkan karena beberapa hal
misalnya latar belakang pendidikan, ketrampilan, usia, masa kerja, jenis
kelamin, watak dasar maupun faktor-faktor lainnya dari tenaga kerja itu
sendiri. Keberagaman perilaku tersebut akan mempengaruhi jalannya kegiatan
perusahaan baik dari hasil yang dicapai maupun bagi masyarakat yang membutuhkan
produk perusahaan.meskipun dengan kemajuan teknologi namun tidak ditunjang
dengan adanya tenaga kerja yang kompeten maka tujuan dan sasaran perusahaan
tidak akan tercapai secara maksimal.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk mengambil judul
“Pengaruh Lingkungan Kerja dan Karakteristik Individu terhadap Kinerja Karyawan
pada Rumah Sakit Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang”.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
ada pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada Rumah Sakit Khusus
Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang?
2. Apakah
ada pengaruh karakteristik individu terhadap kinerja karyawan pada Rumah Sakit
Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang?
3. Apakah
ada pengaruh secara simultan lingkungan kerja dan karakteristik individu
terhadap kinerja karyawan pada Rumah Sakit Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen
Malang?
C.
Tujuan
Penulisan
1. Untuk
mengetahui pengaruh lingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada Rumah Sakit
Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang.
2. Untuk
mengetahui pengaruh karakteristik individu terhadap kinerja karyawan pada Rumah
Sakit Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang.
3. Untuk
mengetahui pengaruh lingkungan kerja dan karakteristik individu terhadap
kinerja karyawan pada Rumah Sakit Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A.
Landasan
Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu di lakukan oleh Ezzah Narisah
(2013) Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Medan “Pengaruh
Karakteristik Individu dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. PP
London Sumatera Indonesia Tbk Bahlias Research Station Simalungun”. Tujuan Penelitian
ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh karakteristik individu
terhadap kinerja, untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh motivasi kerja
terhadap kinerja, untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh karakteristik
individu dan motivasi kerja terhadap kinerja karyawan PT. PP London Sumatera
Indonesia Tbk Bahlias Research Station Simalungun. Jumlah populasi yang
digunakan sebanyak 43 orang. Sedangkan sampel yang digunakan sebanyak 30 orang
responden dengan teknik pengambilan sampelnya adalah sampel jenuh. Untuk
identifikasi variabelnya terdapat variabel bebas atau independen variable yaitu
karakteristik individu (X1) dan variabel motivasi kerja (X2). Sedangkan
variabel terikat atau dependen variable yaitu kinerja karyawan(Y). Analisis
data yang digunakan menggunakan uji validitas dan reabilitas, analisis
koefisien determinasi, uji parsial, uji simultan, uji asumsi klasik, uji
normlitas, uji multikolinearitas, uji heteroskedastisitas dan metode analisa data yang digunakan adalah regresi
linier berganda. Dari perhitungan diperoleh hasil sebagai berikut nilai
koefisien Determinasi (R Square), diperoleh dari penelitian ini sebesar 58,6%.
Hal ini berarti bahwa kemampuan variabel karakteristik individu dan motivasi
kerja dapat menjelaskan pengaruhnya terhadap variabel kinerja karyawan sebesar 58,6%
sedangkan sisanya sebesar 41,4 dipengaruhi oleh variabel lainnya yang tidak
diikutkan dalam penelitian ini seperti kepemimpinan dan komitmen organisasi.
B. Landasan Teori
1.
Pengertian
Lingkungan Kerja
Menurut (Nitisemito dalam Nuraini 2013:97) “Lingkungan kerja adalah segala
sesuatu yang ada disekitar karyawan dan dapat mempengaruhi dalam menjalankan
tugas yang diembankan kepadanya misalnya dengan adanya airconditioner (AC),
penerangan yang memadai dan sebagainya.”
Menurut (Isyandi, 2004:134)
“Lingkungan kerja adalah sesuatu yang ada di lingkungan para pekerja yang dapat
mempegaruhi dirinya dalam menjalankan tugas seperti temperatur, kelembapan,
ventilasi, penerangan, kegaduhan, kebersihan tempat kerja dan memadai tidaknya
alat-alat perlengkapan kerja.”
Menurut (Simanjuntak,
2003:39) “Lingkungan kerja dapat diartikan sebagai keseluruhan alat perkakas
yang dihadapi, lingkungan sekitarnya dimana seorang bekerja, metode kerjanya,
sebagai pengaruh kerjanya baik sebagai perorangan maupun sebagai kelompok.”
Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan lingkungan
kerja adalah kehidupan social , psikologi dan fisik dalam
perusahaan yang berpengaruh terhadap pekerja dalam melaksanakan tugasnya.
2.
Jenis lingkungan kerja:
Menurut Sedarmayanti (2001:21), menyatakan
bahwa secara garis besar, jenis lingkungan kerja dibagi menjadi dua yaitu :
a.
Lingkungan kerja fisik adalah
semua yang terdapat disekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi pegawai baik
secara lanngsung maupun tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat terbagi
kedalam dua kategori yaitupertama lingkungan
yang langsung berhubungan dengan karyawan seperti pusat kerja, kursi, meja dan
lain-lain. Kedua adalah lingkungan perantara yang mempengaruhi kondisi manusia,
misalnya temperature, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan,
getaran mekanik, bau tidak sedap dan sebagainya.
b.
Lingkungan kerja non fisik
adalah semua keadaan yang pasti terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja,
baik hubungan dengan atasan maupun dengan bawahan, ataupun hubungan dengan
sesama rekan kerja.
3.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi lingkungan kerja fisik dan non fisik
Ada
beberapa faktor yang diuraikan oleh Sedarmayanti (2001:21) yang dapat
mempengaruhi lingkungan kerja serta besar pengaruhnya terhadap pekerja diantaranya
adalah :
a.
Penerangan/Cahaya di Tempat Kerja
Penerangan
dari ruang kerja perusahaan merupakan faktor yang paling penting untuk
meningkatkan kinerja para karyawan. Cahaya yang kurang jelas akan menghambat
pekerjaan dan terkadang menyebabkan kesalahan yang tidak perlu.
Beberapa
keuntungan yang dapat diperoleh dengnan adanya system penerangan yang baik
antara lain:
1)
Menaikkan tingkat produksi perusahaan
2)
Memperbaiki kualitas pekerjaan para
karyawan
3)
Memudahkan pengamatan dan pengawasan
4)
Mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi
5)
Mempertinggi gairah kerja
b.
Temperaturdi tempat kerja
c.
Kelembaban di tempat kerja
d.
Sirkulasi udara di tempat kerja
e.
Kebisingan di tempat kerja
f.
Getaran mekanis di tempat kerja
g.
Keamanan di tempat kerja
4.
Faktor
lingkungan kerja non fisik
a.
Struktur kerja, sejauh mana bahwa
pekerjaan yang diberikan kepadanya memiliki struktur kerja dan organisai yang baik.
b.
Tanggung jawab kerja, yaitu sejauh mana
pekerja merasakan bahwa pekerjaan mengerti tanggung jawab mereka serta
bertanggung jawab atas tindakan mereka.
c.
Perhatian dan dukungan pemimpin, yaitu
sejauh mana karyawan merasakan bahwa pimpinan sering memberikan pengarahan,
keyakinan, perhatian serta menghargai mereka.
d.
Kerja sama antar kelompok, yaitu sejauh
mana karyawan merasakan ada kerjasama yang baik diantara kelompok kerja yang
ada.
e.
Kelancaran komunikasi, yaitu sejauh mana
karyawan merasakan adanya komunikasi yang baik, terbuka, dan lancar, baik
antara teman sekerja maupun dengan pimpinanan.
C.
Pengertian
Karakteristik Individu
Menurut Hurriyati
(2005:79) “Karakteristik Individu” merupakan suatu proses psikologi yang
mempengaruhi individu dalam memperoleh, mengkonsumsi serta menerima barang dan
jasa serta pengalaman. Karakteristik individu merupakan faktor internal
(interpersonal) yang menggerakkan dan mempengaruhi perilaku individu.
Menurut Siagian
(2008) “karakteristik biografi (individu) dapat dilihat dari umur, jenis
kelamin, status perkawinan, jumlah tanggungan dan masa kerja.
1.
Faktor-faktor
karakteristik individu:
a. Kemampuan
Menurut
Robbins (2008:57 “kemampuan (ability) adalah kapasitas seorang individu untuk
melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan”. Ada dua jenis kemampuan yang dimiliki oleh
seseorang, yaitu:
1) Kemampuan
intelektual (intellectual ability)
Kemampuan
intelektual adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan atau menjalankan kegiatan
mental.
2) Kemampuan
fisik (physical abilities)
Kemampuan
fisik adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menuutut daya
stamina, kecekatan, dan ketrampilan. Jika kemampuan intelektual berperqn besar
dalam pekerjaan yang rumit, kemampuan fisik hanya mengandalkan kapabilitas
fisik.
b. Kepribadian
Kepribadian
merupakan perbedaan karakteristik individu. Kepribadian dapat dilihat dari
perilaku individu, seperti bagaimana cara seseorang berbicara, bertindak dan
melakukan sesuatu.
Menurut Hasibuan (2009:138) “kepribadian adalah serangkaian ciri yang
relative tetap dan sebagian besar dibentuk oleh faktor keturunan, social,
kebudayaan, dan lingkungan.
D.
Pengertian
Kinerja Karyawan
Menurut Ike
Kusdyah Rachmawati (123:8) “Kinerja
karyawan (penilaian prestasi kerja) adalah dimana organisasi menilai atau
mengevaluasi prestasi kerja karyawan. Aktivitas ini dapat memberikan umpan
balik dan koreksi terhadap pengambilan keputusan organisasi tentang pelaksanaan
kerja.
Menurut Simanjuntak
(2005) “kinerja adalah tingkatan pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas
tertentu dalam rangka mewujudkan pencapaian hasil untuk mencapai tujuan
perusahaan.
1.
Tujuan
dan sasaran kinerja:
Tujuan penilaian kinerja
karyawan menurut Rivai (2011:552)
meliputi:
1. Meningkatkan
etos kerja dan motivasi kerja
2. Untuk
mengetahui tingkat kinerja karyawan
3. Untuk
mendorong pertanggungjawaban dari karyawan
4. Pemberian
imbalan yang serasi, misalnya untuk pemberian kenaikan gaji berkala, gaji
pokok, kenaikan gaji istimewa dan insentif uang
5. Pemutusan
hubungan kerja, pemberian sanksi atau hadiah
2.
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kinerja
a. Efektifitas dan efisiensi
Bila suatu tujuan tertentu akhirnya
bisa dicapai, kita boleh mengatakan bahwa kegiatan tersebut efektif tetapi
apabila akibat-akibat yang tidak dicari kegiatan menilai yang penting dari
hasil yang dicapai sehingga mengakibatkan kepuasan walaupun efektif dinamakan
tidak efesien. Sebaliknya, bila akibat yang dicari-cari tidak penting atau
remeh maka kegiatan tersebut efesien (Prawirosentono,
1999:27).
b.
Otoritas
(wewenang)
Otoritas menurut adalah sifat dari
suatu komunikasi atau perintah dalam suatu organisasi formal yang dimiliki
seorang anggota organisasi kepada anggota yang lain untuk melakukan suatu
kegiatan kerja sesuai dengan kontribusinya (Prawirosentono,
1999:27). Perintah tersebut mengatakan apa yang boleh dilakukan dan yang
tidak boleh dalam organisasi tersebut.
c.
Disiplin
Disiplin adalah taat kepda hukum dan
peraturan yang berlaku (Prawirosentono,
1999:27). Jadi, disiplin karyawan adalah kegiatan karyawan yang
bersangkutan dalam menghormati perjanjian kerja dengan organisasi dimana dia
bekerja.
d.
Inisiatif
Inisiatif yaitu berkaitan dengan
daya pikir dan kreatifitas dalam membentuk ide untuk merencanakan sesuatu yang
berkaitan dengan tujuan organisasi.
3.
Indikator
Kinerja Karyawan
Indikator untuk mengukur kinerja
karyawan secara individu ada enam indikator, yaitu (Robbins, 2006:260):
a.
Kualitas. Kualitas kerja diukur dari
persepsi karyawan terhadap kualitas pekerjaan yang dihasilkan serta
kesempurnaan tugas terhadap keterampilan dan kemampuan karyawan.
b.
Kuantitas. Merupakan jumlah yang dihasilkan
dinyatakan dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang
diselesaikan.
c.
Ketepatan
waktu. Merupakan
tingkat aktivitas diselesaikan pada awal waktu yang dinyatakan, dilihat dari
sudut koordinasi dengan hasil output serta memaksimalkan waktu yang tersedia
untuk aktivitas lain.
d.
Efektivitas. Merupakan tingkat penggunaan
sumber daya organisasi (tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan
dengan maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber
daya.
e.
Kemandirian. Merupakan tingkat seorang karyawan
yang nantinya akan dapat menjalankan fungsi kerjanya Komitmen kerja. Merupakan
suatu tingkat dimana karyawan mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan
tanggung jawab karyawan terhadap kantor.
E.
Pengertian
Rumah Sakit
Menurut Keputusan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 340/MENKES/PER/III/2010 “Rumah
Sakit adalah istitusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,
rawat jalan dan gawat darurat.
F.
Pengertian
Geriatri
Menurut Nascher
(1990:14) “Geriatri” memiliki asal kata yang sama dengan Jara
(dalam bahasa Sansekerta) yang berarti tua. Istilah lain dari geriatri ini berasal dari bahasa
Yunani geron yang berarti “orang tua” dan iatros yang berarti
“penyembuh” atau dokter .
G. Empiris
|
No.
|
Penelitian/Tahun
|
Judul Penelitian
|
Variabel Penelitian
|
Metode Analisis
|
Populasi dan Sampel
|
Hasil Penelitian
|
|
1.
|
Ezzah Narisah (2013)
|
Pengaruh Karakteristik Individu dan
Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada PT. PP London Sumatera
Indonesia Tbk Bahlias Research Station Simalungun
|
Variabel
bebas : lingkungan kerja dan karakteristik individu
Variabel
terikat : kinerja karyawan
|
Regresi linier berganda
|
Populasi
berjumlah 43
Sampel
berjumlah 30
|
Lingkungan
kerja dan karakteristik individu berpengaruh signifikan terhadap kinerja
karyawan di PT.
PP London Sumatera Indonesia Tbk Bahlias Research Station Simalungun
|
H.
Kerangka Berfikir Penelitian
I
| I. Model Kerangka Teori |
J.
Hipotesa
Menurut pendapat
Sugiyono (2009:96) Hipotesa merupakan
jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah
penelitian telah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan. Dikatakan sementara karena
jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori.
Berdasarkan pada rumusan masalah dan landasan teori,
maka penulis merumuskan hipotesa sebagai berikut:
1. Lingkungan
kerja berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan.
2. Karakteristik
individu berpengaruh secara parsial terhadap kinerja karyawan.
3. Lingkungan
kerja dan karakteristik individu berpengaruh secara parsial terhadap kinerja
karyawan
4. Lingkungan
kerja berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan.
5. Karakteristik
individu berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan.
6. Lingkungan
kerja dan karakteristik individu berpengaruh secara simultan terhadap kinerja
karyawan
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Dalam penelitian ini
digunakan desain riset kausal atau sebab akiabat yang berguna untuk
menganalisis hubungan-hubungan antar variabel satu dengan yang lainnya.
Berdasarkan uraian di atas maka desain riset kausal mengarah pada terjadinya
hubungan antara variabel bebas (X) yaitu lingkungan kerja dan karakteristik
individu terhadap variabel terikat (Y) yaitu Kinerja karyawan.
B.
Populasi
dan Sampel
1. Populasi
Populasi
diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas :objek/subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti
untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006:117).
2. Sampel
Sampel
adalah bagian populasi yang akan diteliti dan yang dinggap dapat menggambarkan
populasinya (Suhartono, 2004:57).
C.
Tehnik
Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel
yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling jenis Purposive Sampling.
Purposive Sampling adalah pemilihan sekelompok subjek dalam purposive sampling
didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang
erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui sebelumnya, dengan kata
lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu
yang diterapkan berdasarkan tujuan penelitian (Margono, 2008:128)
Berdasarkan
uraian tersebut yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
Karyawan Rumah Sakit Khusus Geriatri Teja Husada Kepanjen Malang yang berjumlah
67 (Karyawan Medis dan Non Medis).
D.
Tehnik
Pengumpulan Data
1.
Wawancara
Wawancara adalah teknik pengumpulan data
dengan cara mengadakan tanya jawab atau wawancara langsung kepada responden.
2.
Teknik Observasi
Teknik
observasi merupakan cara pengumpulan data yang dilakukan dengan pengamatan
secara langsung terhadap obyek penelitian yang di peroleh mengenai aktivitas
pada Rumah Sakit Khusus Geriatri Teja HusadaKepanjen Malang.
3.
Dokumentasi
Teknik dokumentasi merupakan teknik
pengumpulan data dengan cara pencatatan dari dokumentasi yang ada hubungannya
dengan topik yang akan di bahas dalam laporan ini.
4.
Studi Pustaka
Teknik ini merupakan teknik pengumpulan
data dengan cara mempelajari literatur dan buku yang berhubungan dengan
permasalahan dalam penulisan laporan.
E.
Uji
Asumsi Klasik
1.
Uji
Normalitas
Uji
normalitas merupakan suatu uji untuk melihat apakah data berdistribusi normal
atau tidak. Data besar dengan n >30, dikatakan normal jika nilai taraf
signifikansi (Sig.) Kolmogrov-Smirnov > 0,05.
2.
Uji
Validitas
Validitas
adalah suatu ukuran yang menunjukkan
tingkat kesahihan suatu tes atau sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu
alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya atau
suatu derajat ketepatan/kelayakan instrumen yang digunakan untuk mengukur
apa yang akan diukur.
Valid tidaknya suatu instrumen dapat dilihat dari nilai Sig.
(2-tailed) setiap variabel terhadap
variabel total pada Tabel Correlations output SPSS. Jika nilai Sig.
(2-tailed) < 0,05 atau kurang dari taraf signifikansi yang diambil (5%),
maka Variabel tersebut Valid.
3.
Uji
Reabilitas
Reabilitas
merupakan suatu
tingkatan yang mengukur konsistensi hasil penelitian khususnya data kuantitatif
dari suatu kuisioner. Data disebut reliabel
atau handal jika nilai Cronbach’s Alpha pada Tabel Reability Statistic
>0,6.
4.
Uji
Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas
adalah varian residual yang tidak sama pada semua pengamatan di dalam model
regresi. Terjadi tidaknya heteroskedastisitas dapat dilihat dari Scatterplot.
Jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu
(bergelombang, melebar, menyempit) maka terjadi heteroskedastisitas.
5.
Uji
Multikolinearitas
Multikolinearitas
adalah hubungan antar variabel independent yang terdapat dalam model regresi
memiliki hubungan linier yang sempurna atau mendekati sempurna (koefisien korelasinya
tinggi atau bahkan 1). Konsekuensi jika suatu regresi terjadi multikolinearitas
adalah koefisien korelasi variable menjadi tidak tertentu dan kesalahan menjadi
sangat besar atau tidak terhingga.
Terjadi tidaknya
multikolinearitas dapat dilihat dari nilai VIF pada Tabel Coefficient output
SPSS. Jika tolerance <0,1 atau Inflation
Factor (VIF) >10 maka terjadi autokorelasi.
6.
Uji
Autokorelasi
Autokorelasi
adalah hubungan yang terjadi antara residual dari pengamatan satu dengan
pengamatan yang lain.
Untuk mendeteksi
ada tidaknya autokorelasi, bandingkan nilai DW (Durbin Watson) dengan DW
Tabel dengan kriteria:
Ø Jika
DW antara 0 dan dl maka terjadi autokorelasi negative
Ø Jika
DW antara dl dan du maka tidak dapat ditentukan apakah terjadi autokorelasi atau tidak.
Ø Jika
DW antara du dan 4-du maka tidak terjadi autokorelasi
Ø Jika
DW di antara 4-du dan 4-dl maka tidak dapat ditentukan apakah terjadi
autokorelasi atau tidak.
Ø Jika
DW di antara 4-dl dan 4 maka terjadi autokorelasi positif.
Keterangan:
DW: nilai Durbin Watson yang tertera
pada Tabel Model Summary otput SPSS
dl : DW Table Lower bound (batas
bawah dari DW-Tabel)
du : DW Table Upper bound (batas atas
dari DW-Tabel)
F.
Tehnik
Analisa Data
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis yang dipakai penelitian ini
adalah regresi linier berganda. Menurut Sunyoto,
(2011: 243) Analisis regresi adalah suatu analisis yang mengukur pengaruh
antar variabel melibatkan lebih dari satu variabel bebas (X1,
X2.............Xn) dinamakan analisis regresi linier berganda, dikatakan linier
karena setiap estimasi atas nilai diharapkan mengalami peningkatan atau
penurunan mengikuti garis lurus. Analisis dipakai guna memberitahukan adanya
pengaruh variabel bebas yaitu lingkungan kerja (X1) dan karakteristik individu
(X2) terhadap variabel terikat yaitu kinerja karyawan (Y).
2. Uji Validitas
Ghozali (2009) menyatakan bahwa
uji validitas digunakan untuk mengukur sah, atau valid tidaknya suatu
kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pernyataan pada kuesioner mampu
untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Adapun uji validitas yang
menggunakan rumus korelasi Product Moment menurut Arikunto (2005:72) adalah sebagai berikut :
Apabila nilai r sudah ditemukan, langkah selanjutnya adalah
membandingkan antara hasil nilai r yang terdapat pada tabel nilai kritis.
Sebuah item pertanyaan dikatakan valid jika nilai korelasinya lebih besar dari
nilai korelasi tabel pada tingkat signifikan, umumnya 5%.
3. Uji Reliabilitas
Ghozali (2009) menyatakan bahwa
reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan
indikator dari peubah atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau
handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil
dari waktu ke waktu. Reliabilitas suatu test merujuk pada derajat stabilitas,
konsistensi, daya prediksi, dan akurasi. Pengukuran yang memiliki reliabilitas
yang tinggi adalah pengukuran yang dapat menghasilkan data yang reliabel. Ide pokok dalam konsep reliabilitas
adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil ukur adalah
dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pengukuran terhadap kelompok subjek
yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, kalau aspek yang diukur dalam diri
subjek memang belum berubah. Pengujian realiabilitas dapat menggunakan rumus Alpha
Cronbach sebagai berikut :
Jika nilai alpha > 0.7 artinya reliabilitas mencukupi
(sufficient reliability) sementara jika alpha > 0.80 ini mensugestikan
seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten memiliki reliabilitas
yang kuat. Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai berikut: Jika alpha >
0.90 maka reliabilitas sempurna. Jika alpha antara 0.70 – 0.90 maka
reliabilitas tinggi. Jika alpha 0.50 – 0.70 maka reliabilitas moderat. Jika
alpha < 0.50 maka reliabilitas rendah. Jika alpha rendah, kemungkinan satu
atau beberapa item tidak reliabel.
DAFTAR
PUSTAKA
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi
Analisis Multivariate dengan Program SPSS Edisi ketiga. Badan penerbit
Undip. Semarang.
Hurriyati.
Ratih.(2005). Bauran Pemasaran &
loyalitas konsumen. Bandung :
Alfabeta
Prawirosentono. Suryadi. 1999. Kebijakan Kinerja Karyawan.
Yogyakarta: BPFE
Rachmawati. Ike
Kusdyah. SE. MM. Manajemen Sumber Daya Manusia. Penerbit
ANDI OFFSET.
Yogyakarta.
2008
Rivai, H.Veithazal. 2005. Manajemen Sumber Daya Manusia UNTUK Perusahaan : Dari Teori ke Praktek. PT
Raja Grafindo Persada Jakarta.
Robbins.
Stephen P.2006. Perilaku
Organisasi, PT Indeks. Kelompok Gramedia. Jakarta.
Soehartono, Irawan. 2004. Metode Penelitian Sosial. PT.Remaja Rosdakarya. Bandung
Sugiyono, Prof,
Dr, 2006. Metode Penelitian Pendidikan
(Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung : Penerbit
Alfabeta
Torang, S. (2013). Organisasi
dan manajemen. Bandung:Alfabeta.






Komentar
Posting Komentar